Tampilkan postingan dengan label Adab dan Akhlak Anak Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Adab dan Akhlak Anak Islam. Tampilkan semua postingan

Senin, 04 Oktober 2010

Ucapkanlah Jazakallahu Khairan

Ucapkanlah Jazakallahu Khairan

Oleh: Asy Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah


Dari Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

من صنع إليه معروف فقال لفاعله: جزاك اللَّه خيراً، فقد أبلغ في الثناء

“Barangsiapa yang diberikan sesuatu kebaikan, maka hendaknya dia ucapkan ‘Jazakallahu khairan (semoga Allah membalas kebaikanmu)’ kepada orang yang memberi kebaikan. Sungguh hal yang demikan telah bersungguh-sungguh dalam berterimakasih.”

Takhrij Hadits:
Hadits ini dikeluarkan oleh At Tirmidzi dalam Al Bir was Shilah (2035) dan Ath Thabrani dalam Ash Shaghir (148/2)

Syarah:

Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda,

“Barangsiapa yang diberikan sesuatu kebaikan, maka hendaknya dia ucapkan ‘Jazakallahu khairan (semoga Allah membalas kebaikanmu)’ kepada orang yang memberi kebaikan. Sungguh hal yang demikan telah bersungguh-sungguh dalam berterimakasih.”

Apabila seseorang memberikan sebuah kebaikan kepadamu dengan harta, bantuan, atau ilmu atau yang selain itu, maka Nabi shallallahu alaihi wasallam maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memerintahkan untuk membalas kebaikan tersebut.

Beliau juga bersabda,

“Barangsiapa yang memberikan kebaikan kepadamu maka balaslah (kebaikan tersebut)”

Maka balasan ini sesuai dengan kondisinya. Ada orang yang balasan kebaikannya dengan engkau berikan sesuatu yang sama dengan apa yang dia berikan sebelumnya, atau bahkan lebih banyak. Ada pula yang orang yang balasannya engkau mendoakan kebaikan baginya, dan dia tidak ingin engkau balas dengan harta.

Orang yang sudah tua, memiliki banyak harta, dermawan, memiliki status sosial di masyarakat, jika dia menghadiahkan sesuatu kepadamu, lalu engkau balas memberi hadiah yang sama dengan hadiah pemberiannya, maka dia akan melihat ini sebagai sikap perendahan bagi dirinya.
Akan tetapi bila terjadi yang seperti ini, berdoalah kepada Allah untuknya. Apabila kalian tidak menemukan sesuatu yang pantas untuk membalas kebaikannya, maka doakan dia sampai kalian lihat kalian telah membalasnya. Dan dari doa ini adalah ucapan kalian,

جَزَاكَ اللَّهُ خَيْرًا

“Semoga Allah membalas kebaikanmu”

Jika dia memberikan sebuah kebaikan, manfaat kepadamu, maka ketika engkau ucapkan jazakallahu khairan engkau telah bersungguh-sungguh dalam memuji. Hal ini karena jika Allah membalas seseorang dengan kebaikan, itu merupakan kebahagiaan baginya di dunia dan akhirat.

PS:
Apabila ucapan tersebut ditujukan kepada wanita, maka dhamir (kata gantinya) diubah menjadi:

جَزَاكِ اللَّهُ خَيْرًا

“Jazakillahu khairan”

Apabila ditujukan kepada sekumpulan orang, maka gantilah dengan:

جَزَاكُمُ اللَّهُ خَيْرًا

“Jazakumullahu khairan”
Dikutip dari www.anakmuslim.wordpress.com

Baca Selengkapnya »»

Rabu, 08 April 2009

Jangan Suka Meminta-minta Ya...

Jangan Suka Meminta-minta Ya...
Oleh: Ummu Usamah ‘Aliyyah



“Dul, minta dong kuenya!”

“Kamu diberi jajan ya sama abimu? Ayo kasih aku uangmu!”
“Fathimah, minta mainannya ya?!”
Kata-kata semacam itu terkadang terdengar keluar dari mulut mungil kalian yang lucu.

Mungkin, kalian menganggap meminta-minta sesuatu pada teman seperti itu adalah hal yang sangat biasa. Akan tetapi, tahukah kalian bahwa hal itu adalah perbuatan yang tercela dan dapat mendatangkan dosa?


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda,

“Senantiasa seseorang itu meminta-minta, hingga kelak ia akan menghadap Allah dalam keadaan tiada sepotong daging pun di wajahnya.” (HR. Muttafaqun ‘alaih)

Hiii, apa kalian mau kelak menjumpai Allah dalam keadaan seperti itu?

Adik-adik…
Jangan sekali-kali kalian membiasakan diri dengan perilaku tercela ini. Jangan sekali-kali kalian memiliki kebiasaan meminta uang atau barang milik teman. Selai itu perbuatan tercera dan dilarang, bisa jadi hal itu dapat memberatkan teman kalian.

Mungkin teman kalian itu terpaksa memberi uangnya pada kalian. Atau mungkin teman kalian itu tidak rela apabila diminta-diminta makanannya. Akhirnya, lama kelamaan kalian tidak akan disukai oleh mereka. Mereka akan enggan bergaul dengan kalian.

Jika kalian ingin meminta kebutuhan kalian, mintalah kepada ummi atau abi, karena kalian masih berada dalam tanggungan mereka. Tapi ingat, jangan kalian suka meminta kepada ummi dan abi apa yang mereka tidak sanggup untuk memberikan.

Dan sungguh sangat terpuji, jika sejak kecil kalian belajar meminta apa saja keinginan kalian kepada Allah. Karena Allah-lah tempat kita meminta. Allah sangat suka jika meminta atau berdoa kepada-Nya. Dan Allah sangat tidak suka bila hamba-Nya sombong tidak mau meminta atau berdoa kepada-Nya.

Allah berfirman dalam surat Al-Mukmin ayat 60,

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ (٦٠)

Dan Rabb-mu berfirman, ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam Keadaan hina dina’.”

Berbeda dengan manusia. Manusia jika terus-menerus diminta maka ia akan marah. Ia merasa terbebani. Jadi, janganlah kalian terbiasa meminta-minta. Walaupun hanya meminta tolong kepada orang lain. Jika kalian masih bisa mengerjakan, maka kerjakanlah sendiri, semampu kalian. Kecuali hal-hal yang benar-benar kalian terpaksa meminta tolong kepada orang lain.
Misalnya, tas sekolah kalian terjatuh di pinggir sungai sungai yang dalam, apabila kalian nekat mengambilnya ada kemungkinan kalian akan tergelincir dan tercebur ke sungai yang dalam tersebut. Sementara jika kalian pulang memanggil orang tua kalian saat itu tidak memungkinan. Maka kalian bisa meminta tolong kepada orang dewasa yang ada di sekitar tempat itu untuk mengambilnya. Kalau seperti ini tidaklah mengapa, bahkan dianjurkan kalian untuk melakukannya.

(Sumber: 12 Perilaku Tercela di Sekitar Kita, Ummu Usamah Aliyyah, penerbit Darul Ilmi)

Baca Selengkapnya »»

Jumat, 20 Maret 2009

Jangan Ganggu Temanmu

Jangan Ganggu Temanmu
Oleh: Ummu Usamah Aliyah


Adik-adik yang semoga disayang oleh Allah, sekarang kakak ingin bertanya.

Siapa di antara kalian yang punya hobi mengganggu teman?
Jika ada yang memiliki hobi seperti ini –masya Allah- ketahuilah adik-adik, ini adalah termasuk kebiasaan yang sangat tercela, walau pun bagi kalian mungkin sangat mengasyikkan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassallam dulu pernah bersabda,

“Seorang muslim yang baik adalah yang kaum muslimin selamat dari lisan dan tangannya.” (HR Al Bukhari)


Jadi, bukanlah anak yang baik apabila setiap hari kalian suka mengusili teman atau mengganggunya. Baik secara lisan ataupun dengan tangan kalian.

Mengganggu teman dengan lisan, misalnya kalian mengejeknya, mencemoohnya, menertawakannya, menjulukinya, dengan gelar-gelaran jelek yang menyakitkan hatinya, meng-ghibahinya, dan selainnya.

Mengganggu teman dengan tangan, misalnya kalian memukulnya, mencubitnya, merusak mainannya, merobek bukunya, merampas uangnya dan sebagainya.

Jika kalian suka menganggunya teman seperti ini, jangan salahkan jika tidak ada teman yang mau berteman dengan kalian. Kalian akan dijauhi dan dibenci. Karena, siapapun akan merasa tidak aman dari kenakalan kalian.

Orang yang suka menganggu dan menyakiti orang akan mendapatkan dosa. Allah ta’ala berfirman dalam surat Al-Ahzab ayat 58 yang artinya,

“Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.”

Ketika kalian sedang menganggu teman, cobalah bayangkan bagaiamana rasanya jika kalian yang diganggu oleh teman kalian itu.

Jika kalian mencubit, sukakah kalian jika dicubit?
Jika kalian memukul, sukakah kalian bila dipukul?
Jika kalian mengejek teman, sukakah kalian bila diejek?

Tentunya kalian tidak mau diejek bukan?
Tentunya kalian tidak mau disakiti bukan?

Nah demikian juga orang lain wahai adik-adikku.

(Sumber: 12 Perilaku Tercela di Sekitar Kita, Ummu Usamah Aliyyah, muraja’ah Al-Ustadz Abdul Mu’thi, Lc. Penerbit Darul Ilmi)



Baca Selengkapnya »»