Rabu, 08 April 2009

Jangan Suka Meminta-minta Ya...

Jangan Suka Meminta-minta Ya...
Oleh: Ummu Usamah ‘Aliyyah



“Dul, minta dong kuenya!”

“Kamu diberi jajan ya sama abimu? Ayo kasih aku uangmu!”
“Fathimah, minta mainannya ya?!”
Kata-kata semacam itu terkadang terdengar keluar dari mulut mungil kalian yang lucu.

Mungkin, kalian menganggap meminta-minta sesuatu pada teman seperti itu adalah hal yang sangat biasa. Akan tetapi, tahukah kalian bahwa hal itu adalah perbuatan yang tercela dan dapat mendatangkan dosa?


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda,

“Senantiasa seseorang itu meminta-minta, hingga kelak ia akan menghadap Allah dalam keadaan tiada sepotong daging pun di wajahnya.” (HR. Muttafaqun ‘alaih)

Hiii, apa kalian mau kelak menjumpai Allah dalam keadaan seperti itu?

Adik-adik…
Jangan sekali-kali kalian membiasakan diri dengan perilaku tercela ini. Jangan sekali-kali kalian memiliki kebiasaan meminta uang atau barang milik teman. Selai itu perbuatan tercera dan dilarang, bisa jadi hal itu dapat memberatkan teman kalian.

Mungkin teman kalian itu terpaksa memberi uangnya pada kalian. Atau mungkin teman kalian itu tidak rela apabila diminta-diminta makanannya. Akhirnya, lama kelamaan kalian tidak akan disukai oleh mereka. Mereka akan enggan bergaul dengan kalian.

Jika kalian ingin meminta kebutuhan kalian, mintalah kepada ummi atau abi, karena kalian masih berada dalam tanggungan mereka. Tapi ingat, jangan kalian suka meminta kepada ummi dan abi apa yang mereka tidak sanggup untuk memberikan.

Dan sungguh sangat terpuji, jika sejak kecil kalian belajar meminta apa saja keinginan kalian kepada Allah. Karena Allah-lah tempat kita meminta. Allah sangat suka jika meminta atau berdoa kepada-Nya. Dan Allah sangat tidak suka bila hamba-Nya sombong tidak mau meminta atau berdoa kepada-Nya.

Allah berfirman dalam surat Al-Mukmin ayat 60,

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ (٦٠)

Dan Rabb-mu berfirman, ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam Keadaan hina dina’.”

Berbeda dengan manusia. Manusia jika terus-menerus diminta maka ia akan marah. Ia merasa terbebani. Jadi, janganlah kalian terbiasa meminta-minta. Walaupun hanya meminta tolong kepada orang lain. Jika kalian masih bisa mengerjakan, maka kerjakanlah sendiri, semampu kalian. Kecuali hal-hal yang benar-benar kalian terpaksa meminta tolong kepada orang lain.
Misalnya, tas sekolah kalian terjatuh di pinggir sungai sungai yang dalam, apabila kalian nekat mengambilnya ada kemungkinan kalian akan tergelincir dan tercebur ke sungai yang dalam tersebut. Sementara jika kalian pulang memanggil orang tua kalian saat itu tidak memungkinan. Maka kalian bisa meminta tolong kepada orang dewasa yang ada di sekitar tempat itu untuk mengambilnya. Kalau seperti ini tidaklah mengapa, bahkan dianjurkan kalian untuk melakukannya.

(Sumber: 12 Perilaku Tercela di Sekitar Kita, Ummu Usamah Aliyyah, penerbit Darul Ilmi)

Baca Selengkapnya »»

Ber-KB Untuk Kepentingan Tarbiyah Anak?

Ber-KB Untuk Kepentingan Tarbiyah Anak?
Oleh: Asy Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan


Tanya: Apakah dibolehkan menggunakan obat pencegah kehamilan untuk mengatur/menjarangkan kehamilan dengan tujuan agar dapat mendidik anak yang masih kecil?


Jawab:

Fadhilatusy Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafizhahullah menjawab, “Tidak boleh menggunakan obat pencegah kehamilan kecuali dalam keadaan darurat, apabila memang pihak medis/dokter menyatakan kehamilan berisiko pada kematian ibu.


Namun menggunakan obat pencegah kehamilan dengan tujuan menunda sementara kehamilan yang berikutnya, tidaklah terlarang bila memang si ibu membutuhkannya. Misalnya karena kondisi kesehatannya tidak memungkinkan untuk hamil dalam interval waktu yang berdekatan, atau bila si ibu hamil lagi akan memudaratkan anak/bayinya yang masih menyusu. Dengan ketentuan, obat tersebut tidak memutus/menghentikan kehamilan sama sekali, tapi hanya sekedar menundanya. Bila memang demikian tidaklah terlarang sesuai dengan kebutuhan yang ada, dan tentunya setelah mendapat saran dari dokter spesialis kandungan.” (Al-Muntaqa min Fatawa Fadhilatisy Syaikh Shalih bin Fauzan, 3/175)

Sumber: http://www.asysyariah.com

Baca Selengkapnya »»

Ibarat Mengukir di Atas Batu

Ibarat Mengukir di Atas Batu
Oleh: Al-Ustadzah Ummu ‘Abdirrahman Bintu ‘Imran


Usia kanak-kanak adalah masa keemasan dalam kehidupan seseorang. Segala yang dipelajari dan dialami pada masa ini –dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala– akan membekas kelak di masa dewasa.


Tak heran bila di kalangan pendahulu kita yang shalih banyak kita dapati tokoh-tokoh besar yang kokoh ilmunya, bahkan dalam usia mereka yang masih relatif muda. Dari kalangan sahabat, ada ‘Abdullah bin ‘Umar, ‘Abdullah bin ‘Abbas, ‘Abdullah bin Mas’ud, Mu’adz bin Jabal, Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhum, dan banyak lagi. Kalangan setelah mereka, ada Sufyan Ats-Tsauri, Al-Imam Malik, Al-Imam Asy-Syafi’i, dan Al-Imam An-Nawawi rahimahumullah.

Begitulah memang. Dari sejarah kehidupan mereka kita bisa melihat, mereka telah sibuk dengan ilmu dan adab semenjak usia kanak-kanak. Jadilah –dengan pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala– apa yang mereka pelajari tertanam dalam diri dan memberikan pengaruh terhadap pribadi.


Demikian yang diungkapkan oleh ‘Alqamah rahimahullahu:

مَا حَفِظْتُ وَأَنَا شَابٌّ فَكَأَنِّي أَنْظُرُ إِلَيْهِ فِي قِرْطَاسٍ أَوْ وَرَقَةٍ

“Segala sesuatu yang kuhafal ketika aku masih belia, maka sekarang seakan-akan aku melihatnya di atas kertas atau lembaran catatan.” (Jami’ Bayanil ‘Ilmi wa Fadhlihi, 1/304)

Bahkan ayah ibu mereka berperan dalam mengarahkan dan membiasakan anak-anak untuk menyibukkan diri dengan ilmu agama sejak dini dan menghasung mereka untuk mempelajari adab.

Muhammad bin Sirin rahimahullahu mengatakan:

كَانُوا يَقُوْلُوْنَ: أَكْرِمْ وَلَدَكَ وَأَحْسِنْ أَدَبَهُ

“(Para pendahulu kita) mengatakan: ‘Muliakanlah anakmu dan perbaikilah adabnya!’.” (Jami’ Bayanil ‘Ilmi wa Fadhlihi, 1/308)

Senada dengan ini, Ibnul Anbari rahimahullahu mengatakan pula:

مَنْ أَدَّبَ ابْنَهُ صَغِيْرًا قَرَّتْ عَيْنُهُ كَبِيْرًا

“Barangsiapa mengajari anaknya adab semasa kecil, maka akan menyejukkan pandangannya ketika si anak telah dewasa.” (Jami’ Bayanil ‘Ilmi wa Fadhlihi, 1/306)

Dari kalangan sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Umar ibnul Khaththab radhiyallahu ‘anhu contohnya. Beliau selalu menyertakan putranya, ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma di majelis Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sementara orang-orang yang duduk di sana adalah orang-orang dewasa. Bahkan betapa inginnya ‘Umar agar putranya menjadi seorang yang terkemuka di antara para sahabat yang hadir di situ dari sisi ilmu. ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma menceritakan:

كُنَّا عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ: أَخْبِرْنِي بِشَجَرَةٍ تُشْبِهُ أَوْ كَالرَّجُلِ الْمُسْلِمِ لاَ يَتَحَاتُّ وَرَقُهَا وَلاَ وَلاَ وَلاَ، تُؤْتِي أُكُلَهَا كُلَّ حِيْنٍ. قَالَ ابْنُ عُمَرَ: فَوَقَعَ فِي نَفْسِي أَنَّهَا النَّخْلَةُ وَرَأَيْتُ أَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ لاَ يَتَكَلَّمَانِ، فَكَرِهْتُ أَنْ أَتَكَلَّمَ. فَلَمَّا لَمْ يَقُوْلُوْا شَيْئًا قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: هِيَ النَّخْلَةُ. فَلَمَّا قُمْنَا قُلْتُ لِعُمَرَ: يَا أَبَتَاه، وَاللهِ لَقَدْ كَانَ وَقَعَ فِي نَفْسِي أَنَّهَا النَّخْلَةُ. فَقَالَ: مَا مَنَعَكَ أَنْ تَكَلَّمَ؟ قَالَ: لَمْ أَرَكُمْ تَكَلَّمُوْنَ فَكَرِهْتُ أَنْ أَتَكَلَّمَ أَوْ أَقُوْلَ شَيْئًا. قَالَ عُمَرَ: لَأَنْ تَكُوْنَ قُلْتَهَا أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ كَذَا وَكَذَا.

“Dulu kami pernah duduk di sisi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu beliau bertanya pada kami, ‘Beritahukan kepadaku tentang sebatang pohon yang menyerupai atau seperti seorang muslim, tidak pernah gugur daunnya, tidak demikian dan demikian, selalu berbuah sepanjang waktu.’ Waktu itu terbetik dalam benakku bahwa pohon itu adalah pohon kurma, tapi kulihat Abu Bakr dan ‘Umar tidak menjawab apa pun sehingga aku pun merasa segan untuk menjawabnya. Tatkala para sahabat tidak juga mengatakan apa pun, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Itu pohon kurma.” Ketika kami bubar, kukatakan kepada (ayahku) ‘Umar, “Wahai Ayah, sebetulnya tadi terlintas di benakku bahwa itu pohon kurma.”“Lalu apa yang membuatmu tidak menjawab?” tanya ayahku. “Aku melihat anda semua tidak berbicara, hingga aku merasa segan pula untuk menjawab atau mengatakan sesuatu,” jawab Ibnu ‘Umar. ‘Umar pun berkata, “Sungguh, kalau tadi engkau menjawab, itu lebih kusukai daripada aku memiliki ini dan itu!” (HR. Al-Bukhari no. 4698)

Lihat pula Ummu Sulaim radhiyallahu ‘anha yang menghasung putranya, Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu untuk selalu melayani Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di usia kanak-kanaknya. Ummu Sulaim radhiyallahu ‘anha mengantarkan anaknya memperoleh faedah besar berupa ilmu dan pendidikan dari beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu menuturkan, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di Madinah ketika aku berumur delapan tahun. Maka ibuku pun menggandengku dan membawaku menghadap beliau. Ibuku mengatakan pada beliau, “Wahai Rasulullah, tak seorang pun yang tersisa dari kalangan orang-orang Anshar, baik laki-laki maupun perempuan, kecuali telah memberikan sesuatu padamu. Sementara aku tidak mampu memberikan apa-apa kepadamu, kecuali putraku ini. Ambillah agar dia bisa membantu melayani keperluanmu.” Maka aku pun melayani beliau selama sepuluh tahun. Tak pernah beliau memukulku, tak pernah mencelaku maupun bermuka masam kepadaku.” (Siyar A’lamin Nubala’, 3/398)

Begitu pula ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, sepupu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Baru belasan tahun umurnya ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat, sementara sebelum itu dia banyak mengambil faedah ilmu dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam serta mendapatkan doa beliau. ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma mengungkapkan, bagaimana inginnya dia mendapatkan ilmu dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

رَقَدْتُ فِي بَيْتِ مَيْمُوْنَةَ لَيْلَةَ كَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم عِنْدَهَا لِأَنْظُرَ كَيْفَ صَلاَةَ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم بِاللَّيْلِ

“Aku pernah tidur di rumah Maimunah1 pada malam ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bermalam di sana untuk melihat bagaimana shalat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam di waktu malam.” (HR. Al-Bukhari no. 698 dan Muslim no. 763)

Setelah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat, semangat Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma untuk mencari ilmu tidaklah surut. Didatanginya para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang ada pada saat itu untuk mendengarkan hadits dari mereka. Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma menceritakan tentang hal ini:

“Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat dan waktu itu aku masih belia, aku berkata kepada salah seorang pemuda dari kalangan Anshar, ‘Wahai Fulan, mari kita bertanya pada para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan belajar dari mereka, mumpung mereka sekarang masih banyak!’ Dia menjawab, ‘Mengherankan sekali kau ini, wahai Ibnu ‘Abbas! Apa kau anggap orang-orang butuh kepadamu sementara di dunia ini ada tokoh-tokoh para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana yang kaulihat?’ Aku pun meninggalkannya. Aku pun mulai bertanya dan menemui para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Suatu ketika, aku mendatangi seorang sahabat untuk bertanya tentang suatu hadits yang kudengar bahwa dia mendengarnya dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ternyata dia sedang tidur siang. Aku pun rebahan berbantalkan selendangku di depan pintunya, dalam keadaan angin menerbangkan debu ke wajahku. Begitu keadaanku sampai dia keluar. ‘Wahai putra paman Rasulullah, kenapa engkau ini?’ tanyanya ketika dia keluar. ‘Aku ingin mendapatkan hadits yang kudengar engkau menyampaikan hadits itu dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aku ingin mendengar hadits itu darimu,’ jawabku. ‘Mengapa tidak kau utus saja seseorang kepadaku agar nantinya aku yang mendatangimu?’ katanya. ‘Aku lebih berhak untuk datang kepadamu,’ jawabku. Setelah itu, ketika para sahabat telah banyak yang meninggal, orang tadi (dari kalangan Anshar tersebut, red.) melihatku dalam keadaan orang-orang membutuhkanku. Dia pun berkata padaku, ‘Engkau memang lebih berakal daripadaku’.” (Jami’ Bayanil ‘Ilmi wa Fadhlihi, 1/310)

Dari kalangan setelah tabi’in, kita kenal Al-Imam Sufyan Ats-Tsauri rahimahullahu. Salah satu hal yang mendorong Sufyan Ats-Tsauri sibuk menuntut ilmu sejak usia dini adalah hasungan, dorongan, dan arahan ibunya agar Sufyan mengambil faedah dari para ulama, baik berupa ilmu maupun faedah yang didapatkan dengan duduk bersama mereka, hingga ilmu yang diperolehnya akan memiliki pengaruh terhadap akhlak, adab, dan muamalahnya terhadap orang lain.

Ketika menyuruh putranya untuk hadir di halaqah-halaqah ilmu maupun majelis-majelis para ulama, ibunda Sufyan Ats-Tsauri berpesan, “Wahai anakku, ini ada uang sepuluh dirham. Ambillah dan pelajarilah sepuluh hadits! Apabila kaudapati hadits itu dapat merubah cara dudukmu, perilakumu, dan ucapanmu terhadap orang lain, ambillah. Aku akan membantumu dengan alat tenunku ini! Tapi jika tidak, maka tinggalkan, karena aku takut nanti hanya akan menjadi musibah bagimu di hari kiamat!” (Waratsatul Anbiya’, hal.36-37)

Begitu pula ibu Al-Imam Malik rahimahullahu, dia memerhatikan keadaan putranya saat hendak pergi belajar. Al-Imam Malik mengisahkan:

“Aku berkata kepada ibuku, ‘Aku akan pergi untuk belajar.’ ‘Kemarilah!’ kata ibuku, ‘Pakailah pakaian ilmu!’ Lalu ibuku memakaikan aku mismarah (suatu jenis pakaian) dan meletakkan peci di kepalaku, kemudian memakaikan sorban di atas peci itu. Setelah itu dia berpesan, ‘Sekarang, pergilah untuk belajar!’ Dia juga pernah mengatakan, ‘Pergilah kepada Rabi’ah2! Pelajarilah adabnya sebelum engkau pelajari ilmunya!’ (Waratsatul Anbiya’, hal. 39)

Biarpun dalam keadaan kekurangan, mestinya keadaan itu tidak menyurutkan keinginan orangtua untuk memberikan yang terbaik bagi sang anak. Lihat bagaimana ibu Al-Imam Asy-Syafi’i berusaha agar putranya mendapatkan pendidikan dan pengajaran yang baik.

Diceritakan oleh Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu: “Aku adalah seorang yatim yang diasuh sendiri oleh ibuku. Suatu ketika, ibuku menyerahkanku ke kuttab3, namun dia tidak memiliki sesuatu pun yang bisa dia berikan kepada pengajarku. Waktu itu, pengajarku membolehkan aku menempati tempatnya tatkala dia berdiri. Ketika aku telah mengkhatamkan Al-Qur’an, aku mulai masuk masjid. Di sana aku duduk di hadapan para ulama. Bila aku mendengar suatu permasalahan atau hadits yang disampaikan, maka aku pun menghafalnya. Aku tak bisa menulisnya, karena ibuku tak memiliki harta yang bisa dia berikan kepadaku untuk kubelikan kertas. Aku pun biasa mencari tulang-belulang, tembikar, tulang punuk unta, atau pelepah pohon kurma, lalu kutulis hadits di situ. Bila telah penuh, kusimpan dalam tempayan (guci) yang ada di rumah kami. Karena banyaknya tempayan terkumpul, ibuku berkata, ‘Tempayan-tempayan ini membuat sempit rumah kita.’ Maka kuambil tempayan-tempayan itu dan kuhafalkan apa yang tertulis di dalamnya, lalu aku membuangnya. Sampai kemudian Allah memberiku kemudahan untuk berangkat menuntut ilmu ke negeri Yaman.” (Waratsatul Anbiya’, hal. 36)

Namun betapa mirisnya hati kita bila melihat anak-anak kaum muslimin sekarang ini. Dalam usia yang sama dengan para tokoh ini tadi, mereka tidak mempelajari ilmu agama ataupun memperbaiki adabnya. Akankah kita biarkan ini terus berlangsung?

Wallahu ta’ala a’lamu bish-shawab.

1 Maimunah, istri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, adalah bibi Ibnu ‘Abbas, karena Maimunah adalah saudari Ummul Fadhl, ibu Ibnu ‘Abbas.

2 Al-Imam Rabi’ah rahimahullahu adalah guru Al-Imam Malik rahimahullahu.

3 Kuttab adalah tempat anak-anak kecil belajar baca-tulis Al-Qur’an, semacam TPA/Q di Indonesia

Baca Selengkapnya »»

Jumat, 20 Maret 2009

Abu Hurairah dan Ibunya


Abu Hurairah dan Ibunya


Ketahuilah wahai anak-anak. Dahulu disaat da`wah Nabi kita Muhammad ketahuilah pada awalnya ibu Abu Hurairah adalah seorang yang musyrik.
Sebagai seorang muslim, Abu Huroiroh senantiasa berdakwah kepada ibunya mengajak beliau agar bersedia masuk ke dalam Islam. Kalian tahu wahai anak-anak di jalan Alloh apa yang dilakukan oleh ibunya?
Ibu Abu Huroiroh malah membalas ajakan tanaknya tersebut dengan ucapan yang buruk terhadap Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Abu Huroiroh pun merasa kesedihan yang amat sangat atas perilaku ibunya dan tanggapan ats dakwah Nabi Muhammad Shalallalallhu `alaihi wassalam.
Sampai pada akhirnya beliau menangis dan menemui Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkeinginan mengadukan peristiwa yang dialaminya.
Abu Huroiroh berkata kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam,
“Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku mengajak ibuku masuk Islam.
Tapi dia tidak mau menurutiku. Satu hari aku mengajaknya lagi. Tetapi dia malah mengucapkan sesuatu tentangmu yang aku benci. Doakanlah kepada Alloh agar memberi hidayah kepada Ibuku”. Kemudian Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wasallam pun berdoa,
“Ya Alloh, berilah hidayah kepada Ibunya Abu Hurairah.”

Anak-anak, semoga kalian diberkahi Allah ta`ala. Abu Hurairah pun merasa gembira dan brsyukur serta berharap agar do`a nabi segera terkabul secepatnya. Abu Hurairah pun pulang ke rumahnya. Ketika beliau sampai ke pintu, ternyata pintu itu tertutup. Ibu Abu Huroiroh mendengar langkah kaki putranya. Ibunya lalu berkata, “Tetap di tempatmu, wahai Abu Huroiroh.”

Dari luar Abu Huroiroh mendengar suara gemericik air.Ternyata Ibunya sedang mandi. Ibunya kemudian memakai baju dan kerudungnya. Beliau membuka pintu dan berkata,
“Wahai Abu Huroiroh…Aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali Alloh dan bahwa Muhammad adalah hamba-Nya dan Rosul-Nya.”
Ibu Abu Hurairah mengucapkan kalimat syahadt yang sangat ingin didengar oleh putranya Abu Hurairah.Alhamdulillah ya anak-anak di jalan Allah..
Akhirnya ibu Abu Huroiroh masuk Islam. Doa Rosululloh pun dikabulkan oleh Rabb kita Allah ta’ala.

Nah anak-anak semoga kalian dapat mengambil manfaat dan dapat menambah semangat kalian semua di dalasm belajar memahami islam dan mengamalkannya yang sesuai pemahaman salaful ummah kita yaitu para shohabat dan penerusnya. Amin (HR. Muslim )



Baca Selengkapnya »»

Jangan Ganggu Temanmu

Jangan Ganggu Temanmu
Oleh: Ummu Usamah Aliyah


Adik-adik yang semoga disayang oleh Allah, sekarang kakak ingin bertanya.

Siapa di antara kalian yang punya hobi mengganggu teman?
Jika ada yang memiliki hobi seperti ini –masya Allah- ketahuilah adik-adik, ini adalah termasuk kebiasaan yang sangat tercela, walau pun bagi kalian mungkin sangat mengasyikkan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassallam dulu pernah bersabda,

“Seorang muslim yang baik adalah yang kaum muslimin selamat dari lisan dan tangannya.” (HR Al Bukhari)


Jadi, bukanlah anak yang baik apabila setiap hari kalian suka mengusili teman atau mengganggunya. Baik secara lisan ataupun dengan tangan kalian.

Mengganggu teman dengan lisan, misalnya kalian mengejeknya, mencemoohnya, menertawakannya, menjulukinya, dengan gelar-gelaran jelek yang menyakitkan hatinya, meng-ghibahinya, dan selainnya.

Mengganggu teman dengan tangan, misalnya kalian memukulnya, mencubitnya, merusak mainannya, merobek bukunya, merampas uangnya dan sebagainya.

Jika kalian suka menganggunya teman seperti ini, jangan salahkan jika tidak ada teman yang mau berteman dengan kalian. Kalian akan dijauhi dan dibenci. Karena, siapapun akan merasa tidak aman dari kenakalan kalian.

Orang yang suka menganggu dan menyakiti orang akan mendapatkan dosa. Allah ta’ala berfirman dalam surat Al-Ahzab ayat 58 yang artinya,

“Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.”

Ketika kalian sedang menganggu teman, cobalah bayangkan bagaiamana rasanya jika kalian yang diganggu oleh teman kalian itu.

Jika kalian mencubit, sukakah kalian jika dicubit?
Jika kalian memukul, sukakah kalian bila dipukul?
Jika kalian mengejek teman, sukakah kalian bila diejek?

Tentunya kalian tidak mau diejek bukan?
Tentunya kalian tidak mau disakiti bukan?

Nah demikian juga orang lain wahai adik-adikku.

(Sumber: 12 Perilaku Tercela di Sekitar Kita, Ummu Usamah Aliyyah, muraja’ah Al-Ustadz Abdul Mu’thi, Lc. Penerbit Darul Ilmi)



Baca Selengkapnya »»

Minggu, 15 Maret 2009

Mengenal Dinar dan Dirham

Mengenal dinar dan Dirham

Ketahuilah oleh kalian wahai anak, sesungguhnya Alloh ta`ala telah menyebut kata dinar dalam surat Ali Imron ayat 75, cobalah kalian buka ayat tersebut. Dulu dinar sebelum masa islam berasal dari Kerajaan Rumawi yang disebut dinar Kaisar. Nah yang pertama kali membuat dinar dalam negeri islam adalah Khalifah kelima dari Bani Umayyah bernama `Abdul Malik bin Marwan (65-86 H) atau (685-705 M). Beliau menuliskan di sebuah sisi firman Alloh dan sisi lainnya kalimat tauhid. Dan dinar itu dihiai dengan hiasan perak dan ditulisi bahwa uang ini dibuat di kota apa..., lalu diluar lingkaran bertuliskan nama Nabi kita Nabi Muhammad shallallahu `alaihi wasallam.
Oh ya dinar ini juga sebagai ukuran berat, kurang lebih sama dengan 4,25 gram.

Nah anak-anak sekarang kita belajar tentang dirham. Dan Alloh ta`ala juga telah menyebut kata dirham ini di dalam alqur`an , yaitu di surat yusuf ayat 20, jangan lupa kalian buka mushaf alqur`an kalian ya dan bacalah terjemahannnya juga. Dirham adalah mata uang yang terbuat dari perak. Pada tahun 633 H Khalifah Al Musthanshir dai bani `Abbasiyyah memerintahkan pembuatan dirham sebagi pengganti dinar yang terbuat dari emas, kemudian untuk perbandingan setiap 1 dinar sama dengan 10 dirham. Namun terkadang perbandingan ini mengalami perubahan, misalnya tahun 756 H Kholifah Al Mu`tadhid menjadikan 1 dinar sama dengan 20 dirham. dan ketahuilah pula bahwa dirham juga dipakai sebai ukuran berat, yaitu 2,97-3,12 gram. Tapi sebian mengatakan bahwa Kholifah Bani Ummayyah `Abdul malik bin Marwan telah membuat mata uang dirham di mas apemerintahan beliau. Wallahu a`alam...

Alhamdulillah kalian kini sudah mengenal apa itu dinar dan apa itu dirham, semoga informasi nini menambah wawasan kalian dalam mengenal dan mengetahui berbagai hal dalam dunia islam. Baarakallohufiikum.

Baca Selengkapnya »»

Seorang Petani dan Awan

Seorang Petani dan Awan

Anak-anak di jalan Alloh, alhamdulillah sudah lama kita tidak berjumpa lewat kisah-kisah islam yang berasal dari sunnah yang shohihah. Berikut ini ada sebuah kisah seorang petani dan awan yang masya Alloh ceritanya, semoga kita semua dimudahkan oleh Allah ta`ala dalam memahami dan mendapat atau mengambil manfaat yang besar dari kisah berikut..

Pada masa dahulu ada seorang yang sedang berjalan di padang pasir yang gersang. Tiba-tiba dia mendengar suara dari dalam awan,"siramlah kebun si fulan!" . Kemudian awan tersebut menuju ke arah yang dipenuhi batu-batu hitam. Orang yang mendengar tadi kemudian mengikuti arah perginya awan itu. Lalu awan tersebut berhenti dan menuangkan airnya ke tempat itu. Selain banyak batunya disana juga terdapat sebuah parit yang penuh dengan aiar mengalir, kemidian tampaklah seorang laki-laki yang berada di tengah kebunya itu, ia sedang membagi-bagikan air di kebunnya dengan sekop miliknya.

Kemudian orang yang mengikuti awan tersebut bertanya,"Wahai hamba Alloh! Siapakah nama engkau?" "Fulan",jawab laki-laki di kebun itu. ternyta namanya sama dengan anama yang didengarnya dari balik awan tadi. Maka si fulan juga bertanya,"Mengapa engkau bertanya siapa namaku?" laki-laki tadi menjawab,"Sesungguhnya aku mendengar suara dari dalam awan yang menuangkan air ke kebun ini"Siramilah kebun si fulan" dan nama itu sama persis dengan nama engkau. Apa sesungguhnya yang telah engkau kerjakan?"

Si Fulan menjawab, "Karena engkau telah bertanya seperti itu, ketahuilah sesungguhnya aku selalu memeperhatikan apa yang dihasilkan oleh kebunku ini. Sepertiga dari hasil kebun ini aku shodaqohkan, sepertiganya akau makan bersama dengan keluargaku, dan sepertiganya aku persiapkan untuk bibit."

(HR. Muslim dari Abu Huroiroh)

Baca Selengkapnya »»

Jumat, 13 Maret 2009

Doa Saat Di tempat Yang baru Didatangi Pertama kali

Doa Saat Di tempat Yang baru Didatangi Pertama kali

Alhamdulillah Kita dapat ditakdirkan bertemu lagi. Subhanallah kalian tambah pandai ya.. Oh ya tentu kalian pernah diajak ke tempat yang baru kalian datang pertama kali. Nah tentunya kita meminta perlindungan hanya kepada Allah di tempat itu. Baiklah anak-anak di jalan Alloh, kalian membaca ini ya..


"Audzu bikalimatillahit taammaati min syarri ma kholaq"

artinya, " Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Alloh yang sempurna dari kejahatan apa saja yang diciptakan oleh-Nya."
(HR. Muslim)

Demikian do`anya, diingat terus jangan lupa dihafalkan juga ya... dan usahakan diajarkan pada adik kalian atau saudara kalian lainnya dari kalangan muslim atau muslimah. Serta bacakan pula pada adik kalian yang masih kecil atau belum hafal do`a ini dengan membacanya sambil memegang kepalanya.

Semoga Alloh memberkahi kalian dan ilmu kalian dan kedua ibu bapak kalian. Baarokallohufiikum.

Baca Selengkapnya »»

Hukum Menyingkat Shalawat Kepada Nabi dan Menyigkat Ucapan Salam


Hukum Menyingkat Shalawat Kepada Nabi
Oleh: Al Lajnah Ad-Daimah (Dewan Fatwa Kerajaan Saudi Arabia)

Soal:

Bolehkah menulis huruf ص yang maksudnya shalawat (ucapan shallallahu ‘alaihi wasallam). Dan apa alasannya?


Jawab:

Yang disunnahkan adalah menulisnya secara lengkap –shallallahu ‘alaihi wasallam- karena ini merupakan doa. Doa adalah bentuk ibadah, begitu juga mengucapkan kalimat shalawat ini.


Penyingkatan terhadap shalawat dengan menggunakan huruf - ص atau ص- ع – و (seperti SAW, penyingkatan dalam Bahasa Indonesia -pent) tidaklah termasuk doa dan bukanlah ibadah, baik ini diucapkan maupun ditulis.


Dan juga karena penyingkatan yang demikian tidaklah pernah dilakukan oleh tiga generasi awal Islam yang keutamaannya dipersaksikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Wabillahit taufiq, dan semoga shalawat dan salam tercurah kepada Nabi kita Muhammad, keluarga serta para sahabat beliau.

Dewan Tetap untuk Penelitian Islam dan Fatwa

Ketua: Syaikh ‘Abdul ‘Aziz Ibn Abdullaah Ibn Baaz;
Anggota: Syaikh ‘Abdur-Razzaaq ‘Afifi;
Anggota: Syaikh ‘Abdullaah Ibn Ghudayyaan;
Anggota: Syaikh ‘Abdullaah Ibn Qu’ood

(Fataawa al-Lajnah ad-Daa.imah lil-Buhooth al-’Ilmiyyah wal-Iftaa, - Volume 12, Halaman 208, Pertanyaan ke-3 dari Fatwa No.5069)


Hukum menyingkat Salam

Oleh: Asy Syaikh Wasiyullah Abbas
(Ulama Masjidil Haram, pengajar di Ummul Qura)

Soal:

Banyak orang yang menulis salam dengan menyingkatnya, seperti dalam Bahasa Arab mereka menyingkatnya dengan س- ر-ب. Dalam bahasa Inggris mereka menyingkatnya dengan “ws wr wb” (dan dalam bahasa Indonesia sering dengan “ass wr wb” – pent). Apa hukum masalah ini?

Jawab:

Tidak boleh untuk menyingkat salam secara umum dalam tulisan, sebagaimana tidak boleh pula menyingkat shalawat dan salam atas Nabi kita shallallahu ‘alaihi wasallam. Tidak boleh pula menyingkat yang selain ini dalam pembicaraan.

Sumber: www.ulamasunnah.wordpress.com

Baca Selengkapnya »»

Sabtu, 07 Maret 2009

Ringanlah Dalam Menghukum

Ringanlah Dalam Menghukum
Oleh: Al-Ustadzah Ummu ‘Abdirrahman Bintu ‘Imran
Siapa pun mungkin mengetahui, kemampuan akal anak-anak tidak sesempurna yang ada pada orang dewasa. Anak memiliki kemampuan memahami dan mencerna yang masih sangat terbatas. Karena itulah, kadangkala muncul kesalahan atau kekeliruan yang terkadang dia sendiri belum mampu memahami dan mengerti bahwa tindakannya itu adalah suatu kesalahan.
Menyogok mulut adik, contoh ringannya, terkadang bermula dari maksud baik untuk menyuapi si adik. Namun justru kadang menjadi kesalahan di mata orangtua, karena –sekali lagi dengan keterbatasan sang anak– belum mampu melakukannya dengan benar. Sementara dia sendiri belum mampu memandang hal itu sebagai suatu kesalahan. Demikianlah keadaan seorang anak dengan segala keterbatasannya. Sehingga syariat pun meringankan beban amalan bagi anak kecil, sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang dinukilkan oleh Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu:

رُفِعَ الْقَلَمُ عَنْ ثَلاَثَةٍ: عَنِ النَّائِمِ حَتَّى يَسْتَيْقِظَ، وَعَنِ الصِّبْيَانِ حَتَّى يَحْتَلِمَ، وَعَنِ الْمَجْنُوْنِ حَتَّى يَعْقِلَ
“Diangkat pena dari tiga golongan: orang yang tidur hingga dia terjaga, anak kecil hingga dia baligh, dan orang gila sampai kembali akalnya.”
(HR. Abu Dawud no. 4403, dikatakan oleh Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu dalam Shahih Sunan Abi Dawud: shahih)

Di samping itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam menghasung kita untuk bersikap lemah lembut dan menjauhi kekasaran dalam segala hal, termasuk kepada anak-anak kita tentunya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda kepada istri beliau, ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha:

يَا عَائِشَةُ، إِنَّ اللهَ رَفِيْقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ وَيُعْطِي عَلَى الرِّفْقِ مَا لاَ يُعْطِي عَلَى الْعُنْفِ وَمَا لاَ يُعْطِي عَلَى مَا سِوَاهُ
“Wahai ‘Aisyah, sesungguhnya Allah itu Maha Lembut dan menyukai kelembutan, dan Dia memberikan pada kelembutan apa yang tidak Dia berikan pada kekasaran, maupun pada segala sesuatu selainnya.”
(HR. Al-Bukhari no. 6928 dan Muslim no. 2593)
Al-Qadhi ‘Iyadh rahimahullahu menjelaskan bahwa dengan kelemahlembutan ini akan dapat dicapai berbagai tujuan, dan akan mudah pula untuk mendapatkan apa yang diharapkan, yang semua itu tak dapat diperoleh dengan selain kelembutan. (Syarh Shahih Muslim, 16/144) Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memuji orang yang memiliki sifat lemah lembut, dalam sabda beliau yang dinukilkan oleh Abud Darda` radhiyallahu ‘anhu:

مَنْ أُعْطِيَ حَظَّهُ مِنَ الرِّفْقِ فَقَدْ أُعْطِيَ حَظَّهُ مِنَ الْخَيْرِ، وَمَنْ حُرِمَ حَظَّهُ مِنَ الرِّفْقِ فَقَدْ حُرِمَ حَظَّهُ مِنَ الْخَيْرِ
“Barangsiapa yang diberikan bagiannya berupa kelembutan, berarti dia diberikan bagiannya berupa kebaikan, dan barangsiapa dihalangi bagiannya berupa kelembutan, berarti dia dihalangi dari bagiannya berupa kebaikan.”
(HR. At-Tirmidzi no.2013, dikatakan oleh Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi: shahih)

Oleh karena itu pula kita, orangtua, mestinya berlapang-lapang dalam memberikan hukuman dan celaan pada anak-anak. Terlebih lagi pada hal-hal yang bukan merupakan kemaksiatan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling lapang dalam memudahkan perkara. Sebagaimana dikabarkan oleh istri beliau, ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha:

مَا خُيِّرَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَ أَمْرَيْنِ قَطُّ إِلاَّ أَخَذَ أَيْسَرَهُمَا مَا لَمْ يَكُنْ إِثْمًا، فَإِنْ كَانَ إِثْمًا كَانَ أَبْعَدُ النَّاسِ مِنْهُ
“Tak pernah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam diberikan pilihan di antara dua perkara, kecuali beliau pasti memilih yang paling ringan di antara keduanya selama perkara itu bukan suatu dosa. Apabila perkara itu suatu dosa, maka beliau adalah orang yang paling jauh darinya.”
(HR. Al-Bukhari no.3560 dan Muslim no.2327)

Hadits ini menunjukkan disenanginya memilih sesuatu yang lebih mudah dan lebih ringan, selama hal itu bukan sesuatu yang haram atau makruh. (Syarh Shahih Muslim, 15/82) Kelapangan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini juga dialami sendiri oleh Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu yang melayani Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam semenjak usia kanak-kanak. Anas radhiyallahu ‘anhu menceritakan:

لـَمَّا قَدِمَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِيْنَةَ، أَخَذَ أَبُو طَلْحَةَ بِيَدِي فَانْطَلَقَ بِي إِلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّ أَنَسًا غُلاَمٌ كَيِّسٌ فَلْيَخْدُمْكَ. قَالَ: فَخَدَمْتُهُ فِي السَّفَرِ وَالْحَضَرِ، وَاللهِ مَا قَالَ لِي لِشَيْءٍ صَنَعْتُهُ: لِمَ صَنَعْتَ هَذَا هَكَذَا؟ وَلاَ لِشَيْءٍ لَمْ أَصْنَعْهُ: لِمَ لَمْ تَصْنَعْ هَذَا هَكَذَا؟
“Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di Madinah, Abu Thalhah menggamit tanganku. Pergilah ia bersamaku menghadap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu mengatakan, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya Anas adalah anak yang cerdas, maka izinkan dia melayanimu.’ Maka aku pun melayani beliau ketika bepergian maupun menetap. Demi Allah, tak pernah beliau mengatakan tentang sesuatu yang kukerjakan, ‘Mengapa kau lakukan hal ini seperti ini?’ Tidak pula beliau mengatakan tentang sesuatu yang tak kukerjakan, ‘Mengapa tidak kaukerjakan hal ini seperti ini?’.”
(HR. Al-Bukhari no.2768 dan Muslim no. 2309)

Ketika Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu –yang saat itu masih kanak-kanak– enggan melakukan sesuatu yang beliau perintahkan, beliau tidak mencerca dan menghukumnya. Dikisahkan oleh Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu:

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ أَحْسَنِ النَّاسِ خُلُقًا، فَأَرْسَلَنِي يَوْمًا لِحَاجَةٍ. فَقُلْتُ: وَاللهِ، لاَ أَذْهَبُ. وَفِي نَفْسِي أَنْ أَذْهَبَ لِمَا أَمَرَنِي بِهِ نَبِيُّ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَخَرَجْتُ حَتَّى أَمُرُّ عَلَى صِبْيَانٍ وَهُمْ يَلْعَبُوْنَ فِي السُّوقِ، فَإِذَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ قَبَضَ بِقَفَايَ مِنْ وَرَائِي، قَالَ: فَنَظَرْتُ إِلَيْهِ وَهُوَ يَضْحَكُ. فَقَالَ: يَا أُنَيْسُ، أَذَهَبْتَ حَيْثُ أَمَرْتُكَ؟ قَالَ قُلْتُ: نَعَمْ، أَنَا أَذْهَبُ، يَا رَسُوْلَ اللهِ
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling baik akhlaknya. Suatu hari, beliau pernah menyuruhku untuk suatu keperluan. Maka kukatakan, “Demi Allah, saya tidak mau pergi!” Sementara dalam hatiku, aku berniat untuk pergi guna melaksanakan perintah Nabiyullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aku pun keluar hingga melewati anak-anak yang sedang bermain-main di pasar. Tiba-tiba muncul Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau memegang tengkukku dari belakang. Aku pun memandang beliau yang sedang tertawa. Beliau mengatakan, “Wahai Anas kecil, engkau pergi juga melakukan perintahku?” Aku menjawab, “Ya, saya pergi, wahai Rasulullah!”
(HR. Muslim no. 2310)

Ini semua menunjukkan kesempurnaan akhlak Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bagusnya pergaulan, serta kesabaran dan kelapangan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam. (Syarh Shahih Muslim, 15/70) Namun jika suatu perkara itu merupakan perbuatan dosa, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun tak segan untuk melarang. Seperti ketika cucu beliau makan sebutir kurma yang berasal dari kurma sedekah, sementara keluarga Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam haram memakan sedekah. Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu menceritakan peristiwa ini:

أَخَذَ الْحَسَنُ بْنُ عَلِيٍّ تَمْرَةً مِنْ تَمْرِ الصَّدَقَةِ فَجَعَلَهَا فِي فِيْهِ فَقَالَ رَسُولُ اللهِ n: كِخْ كِخْ، ارْمِ بِهَا، أَمَا عَلِمْتَ أَنَّا لاَ نَأْكُلُ الصَّدَقَةَ؟
Al-Hasan bin ‘Ali radhiyallahu ‘anhuma memungut sebutir kurma dari kurma sedekah, lalu dia masukkan kurma itu ke mulutnya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda, “Kikh, kikh (tinggalkan dan buang barang itu, pent.)! Buang kurma itu! Tidakkah kau tahu, kita ini tidak boleh makan sedekah?”
(HR. Muslim no. 1069)
Juga dalam permasalahan membiasakan ibadah shalat pada anak-anak. Ketika mengajarkan amalan yang agung ini, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan orangtua untuk memukul anak-anak yang enggan menunaikan shalat, meremehkan dan menyia-nyiakannya, jika mereka telah mencapai usia sepuluh tahun. Pukulan ini bukan untuk menyakiti si anak, melainkan untuk mendidik dan meluruskan mereka. Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini disampaikan oleh ‘Amr ibnul ‘Ash radhiyallahu ‘anhu: مُرُوا أَوْلاَدَكُمْ بِالصَّلاَةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِيْنَ، وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرٍ، وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ “Perintahkanlah anak-anak kalian untuk shalat ketika mereka berusia tujuh tahun dan pukullah mereka bila enggan melakukannya pada usia sepuluh tahun, dan pisahkanlah tempat tidur di antara mereka.” (HR. Ahmad, dikatakan oleh Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu dalam Shahih Al-Jami’ush Shaghir no. 5744: hadits ini hasan) Demikian pula yang ada pada para sahabat. Mereka tidak segan bersikap keras bila melihat salah seorang dari keluarganya berbuat kemungkaran. Sebagaimana yang dilakukan oleh Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma ketika melihat salah seorang di antara keluarganya bermain dadu. Dikisahkan oleh Nafi’, maula Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma: أَنَّ عَبْدَ اللهِ بْنَ عُمَرَ كَانَ إِذَا وُجِدَ أَحَدٌ مِنْ أَهْلِهِ يَلْعَبُ بِالنَّرْدِ ضَرَبَهُ وَكَسَرَهَا Apabila Abdullah bin ‘Umar mendapati salah seorang dari anggota keluarganya bermain dadu, maka beliau memukulnya dan memecahkan dadu itu.” (Dikatakan oleh Syaikh Al-Albani rahimahullahu dalam Shahih Al-Adabul Mufrad no. 960: shahihul isnad mauquf) ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha pernah ditanya tentang pendidikan terhadap anak yatim. ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha pun menjawab: إِنِّي لَأَضْرِبُ الْيَتِيْمَ حَتَّى يَنْبَسِطَ “Sesungguhnya aku pernah memukul anak yatim sampai (menangis) tertelungkup.” (Dikatakan oleh Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu dalam Shahih Al-Adabul Mufrad no.105: shahihul isnad) Begitulah yang dilakukan oleh ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, sebagaimana orangtua terhadap anaknya. Dia memberikan hukuman pula pada anak yatim yang ada dalam asuhannya, sampai tertelungkup di atas tanah, sebagaimana yang biasa terjadi pada anak-anak bila dimarahi, mereka telungkup dan menangis. Pukulan ini dimaksudkan untuk memberikan pendidikan kepada si anak, bukan pukulan yang menyakitkan. Inilah bimbingan Islam yang sempurna untuk kita –orangtua– dalam membimbing dan mendidik anak-anak kita, agar kita dapat mendudukkan sesuatu sesuai kadarnya dan meletakkan sesuatu pada tempatnya. Inilah pengajaran kepada kita yang akan mempertanggungjawabkan pendidikan anak-anak kita di hadapan Allah kelak.

“Seorang istri adalah penanggung jawab rumah tangga dan anak-anak suaminya serta kelak akan ditanya tentang mereka.”
(HR. Al-Bukhari no. 5188 dan Muslim no. 1829)

Baca Selengkapnya »»

Ajarkanlah Salam

Ajarkanlah Salam

Kepada abi dan ummi di jalan Alloh, tentulah kita pernah mendengar sabda Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam yang artinya,
“Barang siapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk dalam golongan kaum tersebut.”
(HR. Ahmad dan Abu Daud)

Maka kita semestinya bersemangat dalam melakukan kebaikan dan menghidupkan serta menyuburkan sunnah Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam. Wahai orantua yang berjuang mengarungi hidup, menebar salam antar umat muslim adalah salah satu sunnah Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam. Marilah kita awali dari diri menumbuhkan kebiasaan yag mulia ini lalu kita ajarkan dan tanamkan pada generasi penerus kiat agar sunnah ini senantisa ada dalam setiap dada muslim.


Dari Abu Hurairoh radiallahu ‘anhu berkata, Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya,
“Kalian tidak akan masuk surga sehingga kalian beriman, dan tidak dikatakan beriman sebelum kalian saling mencintai. Salah satu bentuk kecintaan adalah menebar salam antar sesama muslim.”
(HR. Muslim)

Saudaraku para abi dan ummi di jalan Alloh, jika ada yang mengucapkan salam kepada kita sedang kita dalam kondisi sendiri, maka kita wajib menjawabnya karena menjawab salam dalam kondisi tersebut hukumnya adalah fardu ‘ain. Sedang jika salam diucapkan pada suatu rombongan atau kelompok, maka hukum menjawabnya adalah fardu kifayah. Jika salah satu dari kelompok tersebut telah menjawab salam yang diucapkan kepada mereka, maka sudah cukup. Sedang hukum memulai salam adalah sunnah (dianjurkan) namun untuk kelompok hukumnya sunnah kifayah, jika sudah ada yang mengucapkan maka sudah cukup. Ketahuilah wahai orangtua yang budiman ada beberapa adab salam yang sepantasnya kita ajarkan pada anak-anak kita diantaranya :

1. Mengucapkannya Dengan Sempurna

Ketahuilah sangat dianjurkan bagi kita untuk mengucapkan salam dengan sempurna, yaitu dengan mengucapkan, “Assalaamu’alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuhu.” Hal ini berdasarkan hadits dari ‘Imran bin Hushain radiallau ‘anhu, ia berkata: “Seorang laki-laki datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengucapkan , ‘Assalaamu’alaikum’. Maka dijawab oleh Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam kemudian ia duduk, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Sepuluh’. Kemudian datang lagi orang yang kedua, memberi salam, ‘Assalaamu’alaikum wa Rahmatullaah.’ Setelah dijawab oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ia pun duduk, Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Dua puluh’. Kemudian datang orang ketiga dan mengucapkan salam: ‘Assalaamu’alaikum wa rahmatullaahi wa baraakaatuh’. Maka dijawab oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian ia pun duduk dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Tiga puluh’.”
(Hadits Riwayat Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad , Abu Dawud, dan At-Tirmidzi dan beliau meng-hasankannya).

2. Memulai Salam Terlebih Dahulu Pahamilah

Saudaraku para ummi dan abi memulai mengucapkan salam kepada orang lain adalah sangat dianjurkan. Hendaknya yang lebih muda mengucapkan salam kepada yang lebih tua, yang lewat memberi salam kepada yang sedang duduk, dan yang sedikit mengucapkan salam kepada yang banyak, serta yang berkendaraan mengucapkan salam kepada yang berjalan. Hal tersebut sejalan dengan hadist dari Abu Hurairoh. Pengucapan salam yang berkendaraan kepada yang berjalan adalah sebagai bentuk syukur dan salah satu keutamaannya adalah agar menghilangkan kesombongan. Dalam hadits tersebut, bukan berarti bahwa apabila orang-orang yang diutamakan untuk memulai salam tidak melakukannya, kemudian gugurlah ucapan salam atas orang yang lebih kecil, atau yang tidak berkendaraan, dan semisalnya. Akan tetapi Islam tetap menganjurkan kaum muslimin mengucapkan salam kepada yang lainnya walaupun orang yang lebih dewasa kepada yang lebih muda atau pejalan kaki kepada orang yang berkendaraan, sebagaiman sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Yang lebih baik dari keduanya adalah yang memulai salam.” (HR. Bukhori: 6065, Muslim: 2559) Salah satu upaya menyebarkan salam diantar kaum muslimin adalah mengucapkan salam kepada setiap muslim, walaupun kita tidak mengenalnya. Hal ini didasari sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: Dari ‘Abdullah bin Amr bin Ash radiallahu ‘anhuma, ada seorang laki-laki bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Islam bagaimana yang bagus?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Engkau memberi makan ( kepada orang yang membutuhkan), mengucapkan salam kepada orang yang engkau kenal dan yang tidak engkau kenal.”
(HR. Bukhori: 2636, Muslim: 39)

3. Mengulangi Salam Tatkala Berjumpa Lagi Walaupun Berselang Sesaat

Ketahuilah bagi seseorang yang telah mengucapkan salam kepada saudaranya, kemudian berpisah, lalu bertemu lagi walaupun berpisah hanya sebentar, maka dianjurkan mengulang salamnya. Bahkan seandainya terpisah oleh suatu pohon lalu berjumpa lagi, maka dianjurkan mengucapkan salam, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Apabila di antara kalian berjumpa dengan saudaranya, maka hendaklah mengucapkan salam kepadanya. Apabila terhalang oleh pohon, dinding, atau batu (besar), kemudian dia berjumpa lagi, maka hendaklah dia mengucapkan salam (lagi).”
(HR. Abu Dawud )

4. Tidak Mengganggu Orang yang Tidur Dengan Salamnya

Dari Miqdad bin Aswad radiallahu ‘anhu, beliau berkata: “Kami mengangkat jatah minuman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (karena beliau belum datang), kemudian beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam datang di malam hari, maka beliau mengucapkan salam dengan ucapan yang tidak sampai mengganggu/ membangunkan orang tidur dan dapat didengar orang yang tidak tidur, kemudian beliau masuk masjid dan sholat lalu datang (kepada kami) lalu beliau minum (minuman kami).”
(HR. Timidzi)


5. Tidak Memulai Ucapan Salam Kepada Orang Yahudi dan Nasrani

Dari Ali bin Abi Thalib radiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Janganlah kalian mengucapkan salam lebih dahulu kepada Yahudi dan Nashrani, dan bila kalian bertemu mereka pada suatu jalan maka desaklah mereka ke sisi jalan yang sempit.”

6. Berusaha Membalas Salam Dengan yang Lebih Baik atau Semisalnya

Sebagaimana Alloh berfirman yang artinya:

“Apabila kalian diberi salam/penghormatan, maka balaslah dengan yang lebih baik atau balaslah dengan yang serupa.”
(QS. An-Nisa’: 86)

Ketahuilah pula bahwa ada sebuah kebiasaan yang dilakukan para sahabat nabi. Mereka para sahabat jika mereka berjumpa maka saling berjabat tangan antar satu dengan yang lain. Maka apabila kita bertemu dengan seorang teman, cukupkanlah dengan berjabat tangan disertai dengan ucapan salam (Assalaamu’alaikum wa rahmatullaahi wa baraakaatuh) tanpa berpelukan kecuali ketika menyambut kedatangannya dari bepergian, karena memeluknya pada saat tersebut sangat dianjurkan. Hal ini berdasarkan hadits Anas bin Malik rodiallahu ‘anhu, ia berkata: “Apabila sahabat-sahabat Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam saling berjumpa, maka mereka saling berjabat tangan dan apabila mereka datang dari bepergian, mereka saling berpelukan.”
(HR. At-Tabrani )

Wahai orantua di di jalan Alloh yang berusaha mengikuti sunnah nabi , hendaklah kita ajarkan anak-nak kita adab-adab dalam salam. Kita berusaha untuk menanamkannya pada diri kita, memupuknya, memeliharanya serta mengajarkan pada buah hati kita. Semoga Allah, Dzat Yang Tidak Tidur yang membalas kebaikan sebesar dzarrah dengan kebaikan dan membalas keburukan sebesar dzarrah dengan keburukan memberikan kita keistiqamahan untuk senantiasa berjalan mengikuti dan mencocoki Kitabullah dan sunnah Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Baca Selengkapnya »»

Allah Maha Kuasa

Allah Maha Kuasa

Alhamdulillah, Allah ta`ala taqdirkan kita dapat beriman, berislam. Itu tidak lain karena Alloih berkuasa menjadikan yang demikian. Anak-anak semoga Alloh menlindungi kalian, tentunya kalian memahami saat ini kita mengalami musin penghujan yang memberikan kita nikmat dan juga terkadang ujian. Tahukah kalian siapa yang mampu mendatangkan dan menghentikan hujan itu? Masya Alloh kalian menjawabnya dengan tepat, benar hanya Allah sajalah yang berkuasa memunculkan dan menghentikan hujan.

Kapan hujan turun, dimana turunnya, pada siapa turun dan semuanya hanya Alloh yang mengaturnysa. Coba kalian buka wahai anak-anakku sayang firman Alloh yang artinya,

"Alloh. Dialah yang mengirim angin lalu angin itu menggerakkan awan dan Alloh membentangkannnya menurut kehendak-Nya dan menjadikannya bergumpal-gumpal. Lalu engkau lihat hujan keluar dari celah-celahnya. Apabila hujan itu mengenai hamba-hamba yang dikehendaki-Nya maka mereka pun merasa gembira."
(QS. Ar Ruum :48)

Bukan hanya hujan saja Alloh mampu , tetapi semua hal ini di kehidupan ini Alloh ta`ala-lah yang menjadikannya dan menghentikan. Ambillah contoh wahai anakkku sayang, siapakah yang memberi kita nikmat kesehatan, nikmat rejeki, nikmat hidup dan nikmat-nikmat lainnya yang tidak dapat kita hitung , ketahuilah dengan seksama bahwa seluruhnya adalah di bawah kekuasaan Rabb kita. Malam dan siang yang kita nikmati setiap hari adalah bukti kekuasaan Alloh pula. tentu kalian sudah mendengar kisah nabi Ibrahim `alaihi salam yang menghadapi seorang raja kafir nan sombong yang mengaku tuhan yang bisa menghidupkan dan mematikan kemudian Nabi Ibrahim mengatakan sebagaimana dalam surat al baqoroh ayat 258 yang artinya,

"Sesungguhnya Alloh menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah ia dari arah barat. Maka orang(raja) kafir itu pun diam tidak bisa menjawab dan Alloh tidak memberi petunjuk pada orang yang zalim"

Anak-anakku di jalan Alloh, dengan demikian tiadalah seorang hamba pun yang mampu mengatur kehidupan ini, bahkan mengetahui atau merubah taqdirnya. Apabila kalian mendengar seseorang mampu menegetahui yang gaib atau merubah suatu hal ketahuilah dia berbohong karena semua dalam hidup ini hanya Alloh yang mampu dan berkuasa. Alloh lah sebagai Rabb kita yang menguasai seluruh alam semsta ini dan Alloh esa dalam mengatur alam semesta tanpa sekutu atau bantuan. dan apabila kalian mengalami kesulitan maka mintalah pada Alloh yang Maha Kuasa atas segalanya.

Baca Selengkapnya »»